Kurangnya Kebebasan Memicu Kekerasan di Filipina

2 Sep 2013

Belajar mengenal tentang kebebasan di Filipina. Tingkat kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di negara-negara ASEAN tidak sama. Di Filipina misalnya, Filipina merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang memiliki tingkat kebebasannya cenderung di pinggirkan. Berbeda dengan beberapa negara anggota ASEAN lainnya, salah satunya Indonesia. Indonesia merupakan negara yang membuka kebebasan dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. Setidaknya Indonesia jauh lebih baik dari negara-negara lainnya di Asia Tenggara dalam hal kebebasan pers-nya. Dari sekian banyaknya negara yang tergabung dalam anggota ASEAN, Filipina lebih banyak memberontak untuk memberikan kebebasan dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi para blogger. Bahkan tercatat bahwa Filipina memiliki kebebasan yang rendah. Filipina sangat mengontrol dengan ketat untuk membuka kebebasan pers nya. Indeks kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di Filipina merosot karena telah banyak memicu kerusuhan yang terjadi dalam memberikan kebebasan hingga berujung pada jatuhnya korban jiwa.

Kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di negara-negara anggota ASEAN tidak sama. Beberapa negara, termasuk Indonesia, bebas atau longgar dalam hal kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi para blogger, yang sekarang ini menjadi salah satu alternatif dalam penyebaran informasi atau jurnalis warga. Tetapi ada juga negara yang mengekang kebebasan berekspresi warganegaranya, dan ada negara yang memenjarakan blogger jika tulisannya menentang pemerintahan negaranya.

Bagaimana dengan Filipina? Apakah Filipina termasuk negara yang longgar dalam kebebasan berekspresi dan informasi bagi para warganegaranya, termasuk blogger atau jurnalis warga?

Filipina dikatakan kurang menyuarakan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi bagi bangsa Filipina baik blogger maupun jurnalis warga untuk lebih menjunjung perdamaian, hal inilah yang kemudian mengobarkan kekerasan di Filipina. Yang kemudian pemberontakan ini meluas di Filipina hingga menimbulkan rasa / gerakan nasionalisme di negara Filipina terbelenggu.

Dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, Filipina cenderung berbeda dalam hal kebebasan/demokrasinya. Kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Filipina yang sering tekait dengan penyampaikan protes, dan menjadi sasaran kritik atau menentang pemerintahan negaranya akan menimbulkan masalah. Bisa dibilang mungkin Filipina negara yang tidak bisa menerima pendapat yang jelek-jelek, dan tidak bisa memberikan kebebasan kepada bangsanya untuk menyuarakan hak setiap individu. Agak miris kedengarannya. Padahal menurut pendapat saya kebebasan pers / berekspresi oleh Blogger dan Jurnalis warga disini sangat berperan penting dalam pengembangannya. Apalagi kita tahu bahwa dengan maraknya penggunaan teknologi dewasa ini, peran penggiat di sosial media memiliki kekuatan tersendiri untuk mewujudkan Komunitas ASEAN 2015.

Apa sih yang dibanggakan dari penyempitan kebebasan pers dan berekspresi yang banyak memicu kekerasan hingga menjatuhkan korban jiwa?

Memiliki kebebasan juga ada batasnya. Seiiring dengan pertumbuhan isu-isu Komunitas Politik-Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN, dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN, saya berharap semoga Komunitas ASEAN 2015 nanti dapat mewujudkan komunitas ASEAN yang solid dan handal, serta menciptakan suatu power yang berkelas di dunia internasional.

Jika Filipina tidak menemukan gagasan politik untuk memajukan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi yang merupakan hak individu, maka Keamanan dan Politik Filipina bisa dikatakan akan merosot.

Hal ini akan juga akan menyebabkan iklim kebebasan pers di Asia Tenggara terlihat lebih menyempit. Seharusnya ASEAN dapat menciptakan gerakan nasionalisme di setiap negara anggota ASEAN dengan memberikan kebebasan berpendapat yang baik melalui media. Karena dengan memberikan kebebasan kepada masyarakat baik blogger maupun jurnalis yang memiliki peran sebagai penyampai informasi dapat membantu mengembangkan atau mengeksplor apa-apa yang terkait dalam 3 pilar utama Komunitas ASEAN 2015. Dengan adanya kebebasan akan memberikan peluang hak individu untuk dapat menyampaikan informasi mengenai Komunitas Politik-Keamanan ASEAN, dengan adanya kebebasan pers akan membuka peluang untuk mewujudkan Komunitas Ekonomi ASEAN, dan dengan adanya kebebasan berekspresi akan memperluas Komunitas Sosial Budaya ASEAN hingga bertaraf internasional bahkan dikenal di mata dunia.

Beruntunglah karena Indonesia tidak ketinggalan dan cukup baik dalam membuka kebebasan dalam hal pers dan kebebasan berekpresi melalui media. Dengan kebebasan yang sudah ada diharapkan dapat mewujudkan Komunitas ASEAN 2015 yang tidak terbelenggu demi alasan stabilitas sesaat.


TAGS #10daysforASEAN


-

Search

Follow Me

weblog Miz Tia

Promosikan

Recent Post

Blogger Reporter Indonesia